Di era zaman sekarang tak terelakkan untuk berbaur dengan lawan jenis. Yah persahabatan kedua mahluk yang berbeda ini menjadi topik yang sudah basi jika dibahas lagi, tapi justru topik ini sudah tertimbun lama dan tak lengkang oleh waktu ,so kita bahas lagi yah.
Ummm butuh kesiapan mental
juga untuk membahas bahasan kali ini, bismillah semoga dimudahkan,
aduww kok jadi gak enak yah upzz ternyata belum makan hehehe hop kembali
ketema.
Ternyata kalau kita cermati banyak loh yang akhirnya dari
sebuah persahabatan berujung ke cinta. Dari yang berawal biasa menjadi luar biasa. Berawal dari diskusi kelompok bersama menjadi sering main kerumah. Dari makan bersama yang sering dijajanin , berwisata bersama, dapat menumbuhkan benih-benih yang tiada duga mulai tumbuh perlahan dan menelusup secara halus.
bisa dibilang tresno jalaran seko kuliner ehh kulino hihihihi sudah dikasih tahukan, jika agama kita sudah menjelaskan batas-batasan pergaulan, berikut ulasannya, saya pinjem dari lapak sebelah dulu ya,.hihihihi semoga bermanfaat
AdAb PerGauLaN LelAki Dan pEremPuaN
Bismillahirrahmanirrahim...Dengan
nama Allah yg Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang
Kali ini insyaAllah
aku ingin berkongsi akan 1 artikel yg aku rasakan menarik untuk kita renungkan
dan ambil teladan InsyaAllah
Adab Pergaulan
Laki-laki dan Wanita
Sebenarnya tidak ada
satu pun agama langit atau agama bumi, kecuali Islam, yang memuliakan wanita,
memberikan haknya, dan menyayanginya. Islam memuliakan wanita, memberikan
haknya, dan memeliharanya sebagai anak perempuan, istri, ibu dan anggota masyarakat.
Islam memuliakan
wanita sebagai manusia yang diberi tugas (taklif) dan tanggung jawab yang utuh
seperti halnya laki-laki, yang kelak akan mendapatkan pahala atau siksa sebagai
balasannya. Tugas yang mula-mula diberikan Allah kepada manusia bukan khusus
untuk laki-laki, tetapi juga untuk perempuan, yakni Adam dan istrinya (surat
al-Baqarah: 35)
Aturan Pergaulan
Sebenarnya pertemuan
antara laki-laki dengan perempuan tidak haram, melainkan jaiz (boleh). Bahkan,
hal itu kadang-kadang dituntut apabila bertujuan untuk kebaikan, seperti dalam
urusan ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kebajikan, perjuangan, atau lain-lain
yang memerlukan banyak tenaga, baik dari laki-laki maupun perempuan.
Namun, kebolehan itu
tidak bererti bahawa batas-batas diantara keduanya menjadi lebur dan
ikatan-ikatan syar`iyah yang baku dilupakan. Kita tidak perlu menganggap diri
kita sebagai malaikat yang suci yang dikhawatirkan melakukan pelanggaran, dan
kita pun tidak perlu memindahkan budaya Barat kepada kita. Yang harus kita lakukan
ialah bekerja sama dalam kebaikan serta tolong-menolong dalam kebajikan dan
takwa, dalam batas-batas hukum yang telah ditetapkan oleh Islam.
Batas-batas
hukum tersebut antara lain:?
1. Menahan pandangan
dari kedua belah pihak.
Ertinya, tidak boleh
melihat aurat, tidak boleh memandang dengan syahwat, tidak berlama-lama
memandang tanpa ada keperluan. Allah berfirman:
`Katakanlah kepada
orang laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.` Katakanlah kepada
wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara
kemaluannya. ..`(an-Nur: 30-31)
2. Pihak wanita harus
mengenakan pakaian yang sopan yang dituntunkan syara`
Iaitu pakaian yang
menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan. Jangan yang nipis dan
jangan dengan potongan yang menampakkan bentuk tubuh. Allah berfirman:
`… dan janganlah
mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya …` (an-Nur: 31 )
Diriwayatkan dari
beberapa sahabat bahawa perhiasan yang biasa tampak ialah muka dan tangan.
Allah berfirman
mengenai sebab diperintahkan- Nya berlaku sopan:
`… Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu …`
(al-Ahzab: 59)
Dengan pakaian
tersebut, dapat dibezakan antara wanita yang baik-baik dengan wanita nakal.
Terhadap wanita yang baik-baik, tidak ada laki-laki yang suka mengganggunya,
sebab pakaian dan kesopanannya mengharuskan setiap orang yang melihatnya untuk
menghormatinya.
3. Mematuhi adab-adab
wanita muslimah dalam segala hal, terutama dalam pergaulannya dengan laki-laki:
a. Dalam perkataan,
harus menghindari perkataan yang merayu dan membangkitkan rangsangan. Allah
berfirman:
`… Maka janganlah
kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit
dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.` (al-Ahzab: 32)?
b.Dalam berjalan,
jangan memancing pandangan orang. Firman Allah
`… Dan janganlah
mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. ..`
(an-Nur: 31)
Hendaklah mencontoh
wanita yang disebutkan oleh Allah dengan firman-Nya:
`Kemudian datanglah
kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan …`
(al-Qashash: 25)?
c. Dalam gerak,
jangan berlenggak-lenggok, seperti yang disebut dalam hadits:
`(Yaitu)
wanita-wanita yang menyimpang dari ketaatan dan menjadikan hati laki-laki
cenderung kepada kerusakan (kemaksiatan) .(HR Ahmad dan Muslim)
Jangan sampai
ber-tabarruj (menampakkan aurat) sebagaimana yang dilakukan wanita-wanita
jahiliah dulu atau pun jahiliah modern.
4. Menjauhkan diri
dari bau-bauan yang harum dan warna-warna perhiasan yang seharusnya dipakai di
rumah, bukan di jalan dan di dalam pertemuan-pertemuan dengan kaum laki-laki.
5. Jangan berduaan
(laki-laki dengan perempuan) tanpa disertai mahram.
Banyak hadits sahih
yang melarang hal ini seraya mengatakan, `Kerana yang ketiga adalah syaitan.`
Jangan berduaan
sekalipun dengan kerabat suami atau istri. Sehubungan dengan ini, terdapat
hadits yang berbunyi:
`Jangan kamu masuk ke
tempat wanita.` Mereka (sahabat) bertanya, `Bagaimana dengan ipar wanita.`
Beliau menjawab, `Ipar wanita itu membahayakan. ` (HR Bukhari)
Maksudnya, berduaan
dengan kerabat suami atau istri dapat menyebabkan kebinasaan, kerana boleh jadi
mereka duduk berlama-lama hingga menimbulkan fitnah.
Pertemuan itu pada
batas keperluan yang dikehendaki untuk bekerja sama, tidak berlebih-lebihan
yang dapat mengeluarkan wanita dari naluri kewanitaannya, menimbulkan fitnah,
atau melalaikannya dari kewajpan sucinya mengurus rumah tangga dan mendidik
anak-anak.
Menutup Aurat
Kita tahu bahawa
semua bahagian tubuh yang tidak boleh dinampakkan, adalah aurat. Oleh kerana
itu dia harus menutupinya dan haram dibuka. Aurat perempuan dalam hubungannya
dengan laki-laki lain atau perempuan yang tidak seagama, iaitu seluruh
badannya, kecuali muka dan dua tapak tangan. Demikian menurut pendapat yang
lebih kuat.
Kerana dibolehkannya
membuka kedua anggota tersebut –seperti kata ar-Razi– adalah kerana ada suatu
kepentingan untuk bekerja, mengambil dan memberi. Oleh kerana itu orang
perempuan diperintah untuk menutupi anggota yang tidak harus dibuka dan diberi
rukhsah untuk membuka anggota yang biasa terbuka dan mengharuskan dibuka,
justru syariat Islam adalah suatu syariat yang toleran. Ar-Razi selanjutnya
berkata: `Oleh kerana membuka muka dan kedua tapak tangan itu hampir suatu
keharusan, maka tidak salah kalau para ulama juga bersepakat, bahawa kedua
anggota tersebut bukan aurat.`
Kholwah
Kholwah adalah
bersendirian dengan seorang perempuan lain (ajnabiyah). Yang dimaksud perempuan
lain, yaitu: bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dikawin untuk
selama-lamanya, seperti ibu, saudara, bibi dan sebagainya.
Ini bukan bererti
menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi
menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa
bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang
ketiganya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut :
`Barangsiapa beriman
kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan
seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, kerana yang ketiganya ialah
syaitan.` (Riwayat Ahmad)
`Jangan sekali-kali
salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali
bersama mahramnya.`
Melihat Jenis Lain
dengan Bersyahwat
Di antara sesuatu
yang diharamkan Islam dalam hubungannya dengan masalah gharizah, yaitu
pandangan seorang laki-laki kepada perempuan dan seorang, perempuan memandang
laki-laki. Mata adalah kuncinya hati, dan pandangan adalah jalan yang membawa
fitnah dan sampai kepada perbuatan zina.
`Katakanlah kepada
orang-orang mu`min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebagian
pandangannya dan menjaga kemaluannya (an-Nur: 30-31)
Menundukkan Pandangan
Yang dimaksud
menundukkan pandangan itu bukan bererti memejamkan mata dan menundukkan kepala
ke tanah. Bukan ini yang dimaksud dan ini satu hal yang tidak mungkin. Hal ini
sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan
tundukkanlah sebagian suaramu (Luqman 19). Di sini tidak bererti kita harus
membungkam mulut sehingga tidak berbicara.
Tetapi apa yang
dimaksud menundukkan pandangan, yaitu: menjaga pandangan, tidak dilepaskan
begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau
laki-laki yang beraksi.
Pandangan yang
terpelihara, apabila memandang kepada jenis lain tidak mengamat-amati
kecantikannya dan tidak lama menoleh kepadanya serta tidak melekatkan
pandangannya kepada yang dilihatnya itu.
Oleh kerana itu pesan
Rasulullah kepada Sayyidina Ali :
`Hai Ali! Jangan
sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada
pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.` (Riwayat Ahmad, Abu
Daud dan Tarmizi)
Rasulullah s.a.w.
menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu
perbuatan zina mata. Sabda beliau : `Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya
ialah melihat.` (Riwayat Bukhari)
Tabarruj
Tabarruj ini
mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh
orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ahli-ahli tafsir dalam
menafsirkan ayat yang mengatakan :
`Dan tinggallah kamu
(hai isteri-isteri Nabi) di rumah-rumah kamu dan jangan kamu menampak-nampakkan
perhiasanmu seperti orang jahiliah dahulu.` (Ahzab: 33)
sebagai berikut: -
Mujahid berkata:
Perempuan ke luar dan berjalan di hadapan laki-laki.?
Qatadah berkata:
Perempuan yang cara berjalannya dibikin-bikin dan menunjuk-nunjukkan.
Muqatil berkata: Yang
dimaksud tabarruj, yaitu melepas kudung dari kepala dan tidak diikatnya,
sehingga kalung, kriul dan lehernya tampak semua.
Cara-cara di atas
adalah macam-macam daripada tabarruj di zaman jahiliah dahulu, yaitu: bercampur
bebas dengan laki-laki, berjalan dengan melenggang, kudung dan sebagainya
tetapi dengan suatu mode yang dapat tampak keelokan tubuh dan perhiasannya.
Jahiliah pada zaman
kita sekarang ini ada beberapa bentuk dan macam tabarruj yang kalau diukur
dengan tabarruj jahiliah, maka tabarruj jahiliah itu masih dianggap sebagai
suatu macam pemeliharaansumber: http://adabpergaulan.blogspot.com/p/adab-pergaulan-lelaki-dan-perempuan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar