Sabtu, 01 Februari 2014

MENEMUKAN MU DIBALIK KATA PASRAH


Assalamualakum sobat cahaya, sebagai pembukaan perdana blog ini, nisa postingkan re-post dari salah satu karyaku, semoga bermanfaat ^_^. Happy reading....


Inilah saatnya melepas bukan mendapat. Tidak. Bukanya aku tak berharap. Namun terkadang berharap itu sesuatu yang menakutkan. Hanya saja, kata ‘pasti’ berangsur meredup. Entah. Meski jelas kau berkata iya. Keresahan tetap tersimpan. Menanti kebenaran.

Desahan kian terdengar dari ruang sebelah. Terlihat dua orang saling diam. Ku perhatikan kedua mahluk itu berparas diatas rerata. Satunya cantik , yang lainnya tampan. Namun tampak ketengangan nyata diraut wajah mereka. Umur mereka ku prediksi masih teramat muda, mungkin sekitar 23 sampai dengan 25 an.
Ada apa dengan mereka? Hem..toh bukan urusan saya. Hanya saja melihat suasananya yang mencekam. Membuat agak bergidik jika suatu ketika kondisi itu terjadi pada diriku dan seseorang yang teramat sepesial bagiku. Semoga tidak.
Tak berselang lama salah satu dari mereka pergi meninggalkan satu sama lain. Ruang tunggu keberangkatan ke Jakarta semakin lenggang. Tempat duduk makin sepi ditinggalkan para pelancong menuju dunia luar.


Riri mendongak ke atas melihat pesawat yang pergi meninggalkan landasan di airport Adi Sucipto. Matanya berkaca – kaca  membendung sesak beberapa lama menyertai langkahnya. Akhirnya tumpah tak tertahan. Isakan tangis dan gerakan pundaknya makin jelas terlihat. Lutut tak tertahan menopang hati penuh beban. Lesu, dan memutuskan untuk duduk dipinggir jalan meski panas menyengat. Sempat bapak – bapak tukang becak bergantian menawarkan tumpangan, namun Riri selalu berkata tidak.

Andi hanya termenung meninggalkan Riri dengan kondisi tidak mengenakkan. Pikirannya melayang- layang seperti awan disebelah kiri badannya. Rasa sesal, kecewa, sedih berbaur menjadi satu. Tak disangkal hatinya bukan terbuat dari batu, tetesan air mata satu persatu bergulir menyentuh pipi kiri kanannya. Basah. Banjir. Meski telah ia tahan dengan kepalan tangan, tetap kalah.

“ mungkin bukan untuk ku, mungkin bukan milik ku “
Kalimat itu ia lekatkan dipikiran, berusaha tegar. Terasa semi ikhlas, pasrah dan tak disangkal harapan itu masih mengendap dihati paling dalam.

Jakarta aku datang. Beberapa jam lagi akan ku tinggalkan pula dirimu menuju dunia yang tak pernah terjamah kaki dan tangan ku. Bangkok. Tunggulah aku.

Dua tahun kemudian,..

Koh Chang, Bangkok, 7 Januari 2013

Rasanya tak terduga diberikan kesempatan yang Maha Kuasa tuk mengenyam pendidikan di negara ini. Asian Institute of Technology akhirnya ku tahlukan engkau dua tahun ini. Perjuangan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Lelah tapi puas. Sebelum kembali ketanah air dan menerapkan apa yang telah ku pelajari disini saatnya melihat keindahan pariwisata didaerah ini.
Aku pilih Koh Chang. Koh Chang merupakan sebuah taman nasional laut yang telah menarik ribuan pengunjung dari seluruh penjuru dunia. Sajian alam yang indah memberikan kedamaian dan mengganti pikiran lelahku menjadi segar tak terkira.
Ditengah menikmati keindahan alam. Ditengah menikmati keindahan pulau koh chang, bayang- bayang itu menyusup lembut diotak dan hatiku. Tiba-tiba. Tak dipanggil datang dengan sendirinya. Riri , nama yang masih sangat jelas tersimpan disudut terdalam memori. Ah,lupakan. Tak kuhiraukan. Tetap dipendam, bahkan dikubur. Meski nama itu tetap terselip tak bisa dihapus.
Langkah kaki mulai menapak berpindah tempat setelah beberapa menit berdiam dan jeprat – jepret dengan si kamera tua. Subhanallah sungguh indahnya ciptaan Mu, hijaunya panorama ditambah siluet birunya laut, membuat hatiku berdesir hebat. Rasanya tak mau kaki ini beranjak.

Yogyakarta, Indonesia,7 januari 2013

‘mba din, sini’
‘ada apa Ri?’
‘hehehe, aku mau kasih sesuatu mba, tapi jangan teriak yah’ sambil menyodorkan undangan
‘wa..,’ teriak mba dini
‘stttttt uda dibilangin jangan teriak hadew’
‘hehehe habis kaget sih,hohoho’
‘jangan lupa datang yah’
‘insyaAlloh sayang, aku akan kasih kado yang gede banget,sebagai tanda kasihku padamu’
‘hahaha, apa an sihh,lebay’
‘hehehehe’ tertawa bersama
Cerahnya pagi memberikan kekuatan tuk melangkah penuh semangat.  Apalagi tuk menyebar undangan ini diteman- teman guru satu sekolah. Anak – anak mulai bersiap menata  makanan, peralatan menulis, dan minum ke tas mereka. Saatnya memasuki bus satu persatu.

‘Randi wijaya’
‘saya bu’ sambil naik kedalam bus
‘Raisha Mala Dewi’
‘saya bu’ dan seterusnya

Bernyanyi bersama murid- murid didalam bus seperti inilah yang membuatku betah dengan ocehan lucu mereka. Wajah- wajah lugu jauh dari dosa, melihat itu semua, bahagia. Kunjungan kali ini ditaman pintar dekat keraton Ngayogyakarta. Cukup memukau tempat ini dengan segala pernak-perniknya. Murah , tapi lumayan lengkap. Dari pengetahuan fisika, manusia purba, sampai pagelaran 4D menambah pengetahuan dan pengalaman anak didik kami. Tak hanya itu, perjalanan kami lanjut ke shopping, yaitu lokasi pusat menjajakan buku murah. Lokasi ini culup diminati siswa- siswi kami karena menyediakan beragam macam buku bacaan. Alhamdulillah anak didik kami suka mengunyah buku dari pada melototi siaran televisi, hal ini yang terus kami syukuri.

Yogyakarta, 20 januari 2013

‘sudah pukul 07.00 Ri , ealah kamu malah belum apa- apa, tinggal kamu yang belum,cepet sini, sama mba yang disana’
‘iya, iya,. ‘ Manyun
‘sini mba  tak make up ya’ dengan membujuk mba perias bertutur halus

Coret sana coret sini. Eyeshadow , blushon, dan lain – lain telah menempel dikulit muka ku. Panas , lengket, tidak nyaman. Yah demi, demi ,dan demi kakak tercinta, jadi pendamping pengantin,harus. Suasana pesta cukup meriah. Alhamdulilah lancar. Akhirnya sah. Tersenyum.

Dalam hati ‘aku kapan ya? Ya Roobby hanya padaMu hamba menyerahkan segala urusan , jagalah ia yang belum KAU sandingkan dengan ku,jagalah ia, jagalah ia, untuk ku diwaktu yang telah KAU tetapkan Ya Roobb,Aamiin’. Tak tahan, butiran air mata menetes.

Alun- alun Ngayogyakarta, 27 Januari 2013

Hari minggu memang hari yang cocok untuk jogging bersama. Alun- alun yogyakarta merupakan tempat favorite untuk kegiatan satu ini. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran, fiuh. Capek. Desahan nafas terdengar keras, tarik nafas buang, tarik nafas buang. Sampai detak jantung kembali normal. Ku lanjutkan langkah mencari pedagang kaki lima yang tersebar disepanjang jalan.
Langkah tiba- tiba berhenti. Detak jantung kian cepat. Entah. Hanya halusinasi kelelahan apa memang dia. Mata ku mulai mencari bayangan yang selama ini kukenal, dalam, dan hampir ku hapus dari ingatan.
Kutebarkan pandangan kesegalapenjuru tuk mencari sosok itu. Tak ada. Tak ada. Fiuh. Mungkin hanya lelah.

‘Ri..’
Suara itu. Suara itu. Suara itu. Dengan cepat ku mencari arah siapa yang memanggil. Deg . Bola mata ku membesar,bibir memucat, seperti melihat penampakan. Tak kusangka. Itu kamu. Andi.
Mata itu,, yang dulu memandangku. Mata itu yang dulu menghangatkan ku. Mata itu pula ,yang memberi luka teramat dalam dihatiku. Kamu kembali.
Waktu seakan berhenti. Tatapan itu menusuk sampai kedalam jantung. Saling pandang, tak bergerak. Angin membelai, menerpa wajah kusut. Langkah ku terhenti. Terpana dan semakin dekat langkahmu ke arahku.

‘bagaimana kabarmu’
‘a..ak..aku..baik..baik.baik saja’ tercekat tenggorokan ini menjawab pertanyaan sederhana dari Andi
‘kapan pulang’
‘kemarin baru nyampe yogya,’
‘owh..umm’ canggung

Desiran angin menelusup kedalam jilbab ungu ku. Campur aduk.
‘selamat Ri..’
‘hah..selamat untuk apa?’
‘kamu sudah menikah kan kemaren?’
‘hmmm..itu kakak ku yang menikah, bukan aku’
‘jadi..’

Dengan anggukan ku jawab. Ada sedikit senyuman Andi yang terekam di kedua lensa mataku. Desiran aneh itu tiba- tiba kembali , membuat jantungku sedikit melonjak. Panas. Pertemuan tak terduga dan suasana yang canggung.

Kenapa kamu kembali, tepat didepan mataku,.
Memang ada sedikit kenangan itu..
Namun jangan kau membukanya lagi..
Cukup..itu sudah cukup.

Pertemuan ..
Pertemuan bisa memicu awal kenangan..
Apa kau tak sadar? Ada desiran halus kurasakan
Dan pastinya kau merasanya pula,.
Mau kita apakan angin yang terkadang memberikan hawa dari surga,
meski bisa memicu angin beraroma neraka,.
Hanya doa, dan pengharapan yang selalu ku panjatkan kepadaNYA
Pasrah ..
Aku sudah menyerahkan itu semua padaNYA..
Keyakinanku mencengkeram tiap nadiku,.
Jika kau diperuntukan untukku,.
Tangan mu dan tangan ayahku kan bertaut dengan ucapan suci itu..
Dan kebenaran pun terungkap..
Engkaulah jodohku..

#MENEMUKANMU DIBALIK KATA PASRAH,.MESKI IYA ATAU BUKAN,.HANYA DIA MAHA MENGETAHUI




Tidak ada komentar:

Posting Komentar