Assalamualakum sobat cahaya, sebagai pembukaan perdana blog ini, nisa postingkan re-post dari salah satu karyaku, semoga bermanfaat ^_^. Happy reading....
Inilah saatnya melepas bukan mendapat. Tidak. Bukanya aku tak
berharap. Namun terkadang berharap itu sesuatu yang menakutkan. Hanya saja,
kata ‘pasti’ berangsur meredup. Entah. Meski jelas kau berkata iya. Keresahan tetap
tersimpan. Menanti kebenaran.
Desahan kian terdengar
dari ruang sebelah. Terlihat dua orang saling diam. Ku perhatikan kedua mahluk
itu berparas diatas rerata. Satunya cantik , yang lainnya tampan. Namun tampak
ketengangan nyata diraut wajah mereka. Umur mereka ku prediksi masih teramat
muda, mungkin sekitar 23 sampai dengan 25 an.
Ada apa dengan mereka?
Hem..toh bukan urusan saya. Hanya saja melihat suasananya yang mencekam.
Membuat agak bergidik jika suatu ketika kondisi itu terjadi pada diriku dan
seseorang yang teramat sepesial bagiku. Semoga tidak.
Tak berselang lama
salah satu dari mereka pergi meninggalkan satu sama lain. Ruang tunggu
keberangkatan ke Jakarta semakin lenggang. Tempat duduk makin sepi ditinggalkan
para pelancong menuju dunia luar.
Riri mendongak ke atas
melihat pesawat yang pergi meninggalkan landasan di airport Adi Sucipto.
Matanya berkaca – kaca membendung sesak beberapa
lama menyertai langkahnya. Akhirnya tumpah tak tertahan. Isakan tangis dan
gerakan pundaknya makin jelas terlihat. Lutut tak tertahan menopang hati penuh
beban. Lesu, dan memutuskan untuk duduk dipinggir jalan meski panas menyengat.
Sempat bapak – bapak tukang becak bergantian menawarkan tumpangan, namun Riri
selalu berkata tidak.
Andi hanya termenung
meninggalkan Riri dengan kondisi tidak mengenakkan. Pikirannya melayang- layang
seperti awan disebelah kiri badannya. Rasa sesal, kecewa, sedih berbaur menjadi
satu. Tak disangkal hatinya bukan terbuat dari batu, tetesan air mata satu
persatu bergulir menyentuh pipi kiri kanannya. Basah. Banjir. Meski telah ia
tahan dengan kepalan tangan, tetap kalah.
“ mungkin bukan untuk
ku, mungkin bukan milik ku “
Kalimat itu ia
lekatkan dipikiran, berusaha tegar. Terasa semi ikhlas, pasrah dan tak
disangkal harapan itu masih mengendap dihati paling dalam.
Jakarta aku datang.
Beberapa jam lagi akan ku tinggalkan pula dirimu menuju dunia yang tak pernah
terjamah kaki dan tangan ku. Bangkok. Tunggulah aku.
Dua tahun kemudian,..
Koh Chang, Bangkok, 7 Januari 2013
Rasanya tak terduga
diberikan kesempatan yang Maha Kuasa tuk mengenyam pendidikan di negara ini. Asian Institute of Technology akhirnya ku
tahlukan engkau dua tahun ini. Perjuangan yang cukup menguras tenaga dan
pikiran. Lelah tapi puas. Sebelum kembali ketanah air dan menerapkan apa yang
telah ku pelajari disini saatnya melihat keindahan pariwisata didaerah ini.
Aku
pilih Koh Chang.
Koh Chang merupakan sebuah taman nasional laut yang telah menarik ribuan
pengunjung dari seluruh penjuru dunia. Sajian alam yang indah memberikan
kedamaian dan mengganti pikiran lelahku menjadi segar tak terkira.
Ditengah menikmati
keindahan alam. Ditengah menikmati keindahan pulau koh chang, bayang- bayang
itu menyusup lembut diotak dan hatiku. Tiba-tiba. Tak dipanggil datang dengan
sendirinya. Riri , nama yang masih sangat jelas tersimpan disudut terdalam
memori. Ah,lupakan. Tak kuhiraukan. Tetap dipendam, bahkan dikubur. Meski nama
itu tetap terselip tak bisa dihapus.
Langkah kaki mulai
menapak berpindah tempat setelah beberapa menit berdiam dan jeprat – jepret
dengan si kamera tua. Subhanallah sungguh indahnya ciptaan Mu, hijaunya
panorama ditambah siluet birunya laut, membuat hatiku berdesir hebat. Rasanya
tak mau kaki ini beranjak.
Yogyakarta, Indonesia,7 januari 2013
‘mba din, sini’
‘ada apa Ri?’
‘hehehe, aku mau kasih
sesuatu mba, tapi jangan teriak yah’ sambil menyodorkan undangan
‘wa..,’ teriak mba
dini
‘stttttt uda
dibilangin jangan teriak hadew’
‘hehehe habis kaget
sih,hohoho’
‘jangan lupa datang
yah’
‘insyaAlloh sayang,
aku akan kasih kado yang gede banget,sebagai tanda kasihku padamu’
‘hahaha, apa an
sihh,lebay’
‘hehehehe’ tertawa
bersama
Cerahnya pagi
memberikan kekuatan tuk melangkah penuh semangat. Apalagi tuk menyebar undangan ini diteman-
teman guru satu sekolah. Anak – anak mulai bersiap menata makanan, peralatan menulis, dan minum ke tas
mereka. Saatnya memasuki bus satu persatu.
‘Randi wijaya’
‘saya bu’ sambil naik
kedalam bus
‘Raisha Mala Dewi’
‘saya bu’ dan
seterusnya
Bernyanyi bersama
murid- murid didalam bus seperti inilah yang membuatku betah dengan ocehan lucu
mereka. Wajah- wajah lugu jauh dari dosa, melihat itu semua, bahagia. Kunjungan
kali ini ditaman pintar dekat keraton Ngayogyakarta. Cukup memukau tempat ini
dengan segala pernak-perniknya. Murah , tapi lumayan lengkap. Dari pengetahuan
fisika, manusia purba, sampai pagelaran 4D menambah pengetahuan dan pengalaman
anak didik kami. Tak hanya itu, perjalanan kami lanjut ke shopping, yaitu
lokasi pusat menjajakan buku murah. Lokasi ini culup diminati siswa- siswi kami
karena menyediakan beragam macam buku bacaan. Alhamdulillah anak didik kami
suka mengunyah buku dari pada melototi siaran televisi, hal ini yang terus kami
syukuri.
Yogyakarta, 20 januari 2013
‘sudah pukul 07.00 Ri
, ealah kamu malah belum apa- apa, tinggal kamu yang belum,cepet sini, sama mba
yang disana’
‘iya, iya,. ‘ Manyun
‘sini mba tak make up ya’ dengan membujuk mba perias
bertutur halus
Coret sana coret sini.
Eyeshadow , blushon, dan lain – lain telah menempel dikulit muka ku. Panas ,
lengket, tidak nyaman. Yah demi, demi ,dan demi kakak tercinta, jadi pendamping
pengantin,harus. Suasana pesta cukup meriah. Alhamdulilah lancar. Akhirnya sah.
Tersenyum.
Dalam hati ‘aku kapan ya? Ya Roobby hanya padaMu hamba
menyerahkan segala urusan , jagalah ia yang belum KAU sandingkan dengan ku,jagalah
ia, jagalah ia, untuk ku diwaktu yang telah KAU tetapkan Ya Roobb,Aamiin’.
Tak tahan, butiran air mata menetes.
Alun- alun Ngayogyakarta, 27 Januari 2013
Hari minggu memang
hari yang cocok untuk jogging bersama. Alun- alun yogyakarta merupakan tempat
favorite untuk kegiatan satu ini. Satu putaran, dua putaran, tiga putaran,
fiuh. Capek. Desahan nafas terdengar keras, tarik nafas buang, tarik nafas
buang. Sampai detak jantung kembali normal. Ku lanjutkan langkah mencari
pedagang kaki lima yang tersebar disepanjang jalan.
Langkah tiba- tiba
berhenti. Detak jantung kian cepat. Entah. Hanya halusinasi kelelahan apa
memang dia. Mata ku mulai mencari bayangan yang selama ini kukenal, dalam, dan
hampir ku hapus dari ingatan.
Kutebarkan pandangan
kesegalapenjuru tuk mencari sosok itu. Tak ada. Tak ada. Fiuh. Mungkin hanya
lelah.
‘Ri..’
Suara itu. Suara itu.
Suara itu. Dengan cepat ku mencari arah siapa yang memanggil. Deg . Bola mata
ku membesar,bibir memucat, seperti melihat penampakan. Tak kusangka. Itu kamu.
Andi.
Mata itu,, yang dulu
memandangku. Mata itu yang dulu menghangatkan ku. Mata itu pula ,yang memberi
luka teramat dalam dihatiku. Kamu kembali.
Waktu seakan berhenti.
Tatapan itu menusuk sampai kedalam jantung. Saling pandang, tak bergerak. Angin
membelai, menerpa wajah kusut. Langkah ku terhenti. Terpana dan semakin dekat
langkahmu ke arahku.
‘bagaimana kabarmu’
‘a..ak..aku..baik..baik.baik
saja’ tercekat tenggorokan ini menjawab pertanyaan sederhana dari Andi
‘kapan pulang’
‘kemarin baru nyampe
yogya,’
‘owh..umm’ canggung
Desiran angin
menelusup kedalam jilbab ungu ku. Campur aduk.
‘selamat Ri..’
‘hah..selamat untuk
apa?’
‘kamu sudah menikah
kan kemaren?’
‘hmmm..itu kakak ku
yang menikah, bukan aku’
‘jadi..’
Dengan anggukan ku
jawab. Ada sedikit senyuman Andi yang terekam di kedua lensa mataku. Desiran
aneh itu tiba- tiba kembali , membuat jantungku sedikit melonjak. Panas.
Pertemuan tak terduga dan suasana yang canggung.
Kenapa kamu kembali, tepat didepan mataku,.
Memang ada sedikit kenangan itu..
Namun jangan kau membukanya lagi..
Cukup..itu sudah cukup.
Pertemuan ..
Pertemuan bisa memicu
awal kenangan..
Apa kau tak sadar? Ada
desiran halus kurasakan
Dan pastinya kau
merasanya pula,.
Mau kita apakan angin
yang terkadang memberikan hawa dari surga,
meski bisa memicu
angin beraroma neraka,.
Hanya doa, dan
pengharapan yang selalu ku panjatkan kepadaNYA
Pasrah ..
Aku sudah menyerahkan
itu semua padaNYA..
Keyakinanku
mencengkeram tiap nadiku,.
Jika kau diperuntukan
untukku,.
Tangan mu dan tangan
ayahku kan bertaut dengan ucapan suci itu..
Dan kebenaran pun
terungkap..
Engkaulah jodohku..
#MENEMUKANMU DIBALIK
KATA PASRAH,.MESKI IYA ATAU BUKAN,.HANYA DIA MAHA MENGETAHUI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar